Ayah, Kembalilah !
Firman mengayuh sepedanya ke puncak bukitdi belakang desanya.Sesampainya di puncak bukit, dia bertemu dengan Kakek Kasdi, tetua di desanya.“Kenapa kau ada disini, nak?” tanya Kakek Kasdi.“Aku sedang mengayuh sepedaku ke sini, Kek. Kenapa Kakek ada disini ?” tanya Firman.“Aku sedag mengingat kejadian 15 tahun lalu yang menyangku tentang ayahmu.” jawab Kek Kasdi.“Ayah ? Bukankah ayahku sudah meninggal sebelum aku dilahirkan, Kek ?” Tanya Firman.“Tidak, ayahmu belum meninggal, dia menderita penyakit kronis yang memaksanya meninggalkan kau, ibumu, dan kakakmu.” Jawab Kek Kasdi. Firman ytermenung memikirkan cerita Kakek Kasdi mengenai ayahnya. Kakek Kasdi tiba-tiba pergi begitu saja berjalan menuruni bukit, Kemudian Firman menuruni bukit tanpa berkata apa-apa untuk pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, Firman menemui ibunya, Bu Minah,yang tengah memasak di dapur. Firman menceritakan pengalaman sore itu kepada ibunya, lalu dia bertanya tentang ayahnya.“Bu, ayah itu seperti apa sih?”tanya Firman .
“Ayahmu itu orang yang berani dan baik, Man. Hanya saja, dia menderita penyakit kronis,”jawab Bu Minah.“Kata ibu, ayah sudah meninggal. Tapi kata Kakek Kasdi ayah belum meninggal. Kenapa ibu menutup-nutupi masalah ini?”tanya Firman.“Ibu hanya tidak tega melihat kalian berdua menderita memikirkan nasib ayahmu.”kata ibu sambil meneteskan air mata mengingat kejadian yang menimpa suaminya, Pak Imron.“Kenapa ibu menangis ?”tanya Firman.“Ibu hanya mengingat tentang kejadian yang dialami ayahmu. Dulu, ayahmu menderita penyakit darah bawaan, namanya leukemia. Karena kami tak punya uang untuk berobat, terpaksa ayahmu harus meninggalkan kita bertiga untuk mencari uang pengobatan. Sampai sekarang dia belum kembali,nak.”jawab ibu.
“Jadi, sekarang ibu tidak tahu dimana keberadaan ayah?”tanya Firman.“Ya, ibu bingung dimana sekarang ayahmu berada. Untung kita masih diberi rezeki oleh Allah untuk hidup serba berkecukupan.”kata ibu. “Tapi ibu harus banting tulang menghidupi keluarga. Kak Dika juga, setelah tamat SMA dia langsung kerja untuk biaya sekolahku. Kenapa ayah tidak pernah memberi kabar kepada kita, Bu?”tanya Firman yang sedikit marah.“ Ibu juga tidak tahu, nak. Mungkin sekarang ayahmu sudah sembuh, atau mungkin juga belum. Kamu jangan membenci ayahmu, Firman. Jangan meniru kakakmu yang membenci ayahmu.”kata Bu Minah.Firman termenung mendengar perkataan ibunya, dia tidak mengira kalau kakaknya membenci ayahnya. Bu Minah melanjutkan lagi pekerjaannya, sementara Firman masih termenung di tungku penggorengan.
Malam harinya, Firman menemui kakaknya, Kak Dika. Kak Dika sebenarnya orang yang humoris, lucu, dan suka menolong, tapi kalau sudah marah, galaknya minta ampun.“Kak, kakak tahu tentang ayah?”tanya Firman pada Kak Dika. Sambil bermain gitar, kakaknya berpikir tentang pertanyaan adiknya. Dia meletakkan gitarnyadan mulai bercerita tentang sosok ayah yang sebenarnya.“Ayah itu orangnya tegas, suka marah-marah, dan perhatian sekali sama keluarganya. Waktu itu umur kakak baru 5 tahun saat ayah pergi meninggalkan rumah. Waktu itu, kakak tidak tahu alasan kenapa ayah meninggalkan keluarganya. Saat itu, kakak hanya berpikir kalau ayah itu jahat karena tega meninggalkan keluarganya begitu saja.”kata Kak Dika yang mengepalkan tangannya.“Jadi sampai sekarang kakak masih membenci ayah?”tanya Firman.
“ Ya, kakak masih belum bias memaafkan ayah. Karena dia, keluarga kita hidup menderita. Keanapa dari dulu sampai sekarang dia masih belum kembali, mengirim pesan saja tidak pernah! ” kata Kak Dika sembari meminum kopinya.
Firman tidak habis pikir mengapa Kak Dika masih membenci ayah. Firman tiba-tiba pergi ke kamarnya.“Man, kamu mau ke mana?” tanya Kak Dika. “ Mau belajar,Kak, Besok ada ulangan.” kata Firman sambil membuka pintu kamarnya.
Keesokan harinya, Firman berangkat ke sekolah. Di jalan, dia bertemu Udin dan Bejo. Mereka bertiga berjalan sambil menceritakan pengalaman masing-masing. Sesampainya di sekolah, mereka langsung masuk ke kela. Tidak lama kemudian, bel masuk berbunyi dan Bu Lilik masuk kedalam ruangan kelas dengan seorang sisiwa baru.
“Selamat pagi anak-anak.”sapa Bu Lilik.“Selamat pagi, Bu.”jawab anak-anak serentak.“Ibu akan memperkenalkan pada kalian seorang siswa baru, namanya Andik. Andik, perkenalkan dirimu pada teman-teman barumu.”kata Bu Lilik.“Selamat pagi, teman-teman. Nama saya Andik Firmansyah, saya dari Pekalongan. Hobi saya bersepeda, terima kasih.”kata Andik.“Andik, kamu boleh duduk di sebelah Firman.”kata Bu Lilik sambil menunjukkan tempat duduknya.“Anak-anak, Hari ini jadi ulangan, ya.”kata Bu Lilik.“Wah, Bu. Jangan sekarang, saya belum siap!”kata Udin.“Eh, Udin. Kapan kamu siapnya, lha kemarin kau main-main terus.”kata Bejo sambil mengejek. Anak-anak yang lain pun tertawa, Bu Lilik tetap mengadakan ulangan hari itu juga. Setelah pulang sekolah, Firman dan teman-temannya bertemu dengan Andik. Mereka segera berkenalan dan terlihat akrab satu sama lain. Lama kelamaan, keakraban mereka semakin erat, setiap hari mereka selalu bermain bersama. Suatu hari, Firman, Udin, Bejo, dan Andik bersepeda bersama menuju puncak bukit. Mereka terlihat sangat ceria sekali. Sesampainya di puncak bukit, mereka berteduh di sebuah pohon yang rindang.“Hari ini panas banget, ya!”kata Udin.“Iya, tenggorokanku saja sudah kering. Aku haus nih!”seru Bejo sambil mengipas-ngipas badannya.“teman-teman, aku mau boleh cerita nggak?”tanya Firman pada teman-temannya.“Boleh, kamu mau cerita apa, Man?”tanya Andik.“Aku mau cerita tentang ayahku. Ayahku sebenarnya orang yang baik tapi galak. Dia punya penyakit kronis yang memaksanya meninggalkan keluarga kami. Setelah dia meninggalkan kami, kakakku mulai membencinya. Aku tidaktahu kenapa kakakku membenci ayah selama ini.”kata Firman.“Oo, jadi itu masalahmu, Man. Tenang saja, asalkan kamu berdoa dan bersabar menunggu kabar ayahmu, pasti semua akan baik-baik saja.” kata Andi menasehati Firman.“Kamu betul,Dik. Aku memang harus banyak bersabar, siapa tahu ayahku akan kembali lagi.” Kata Firman lega.“Betul itu, kamu jangan bersedih lagi ya, Man.” kata Bejo.“Iya, iya.”jawab Firman sambil tersenyum.Karena Hari sudah sore, mereka berempat pulang ke rumah masing-masing. Firman tiba di rumahnya, dia mencari ibunya tetapi dia tidak menjumpai ibunya. Kak Dika pulang ke rumah setelah selesai bekerja.“Kak, ibu dimana sih?”tanya Firman.“Oh, ibu sedang ada di rumah Bu Bariyah. Malamini ada acara hajatan di rumahnya. Jadi ibu membantu memasak disana.”jawab Kak Dika sambil meletakkan tasnya di kursi.“Oo, gitu ya, Kak. Ya sudah, aku mau mandi dulu.”kata Firman menuju kamar mandi di belakang rumahnya.
Hari sudah mulai beranjak malam. Waktu menunjukkan pukul 19.00. Ibu masih belum pulang. Firman sedang belajar di kamarnya, sedangkan Kak Dika sedang tidur di ruang tamu. Tiba-tiba terdengar suar ketukan pintu. Kak Dika masih terlelap dalam tidurnya, jadi Firman yang membuka pintu. Dari balik pintu terlihat seorang laki-laki tua berkumis yang membawa sebuah tas.“Firman!”seru lelaki itu sambil memeluk Firman.“Eh, eh. Bapak ini siapa ya?”tanya Firman heran.“Aku ayahmu, Man. Kamu Firman, kan? Dan itu kakakmu, Dika.”kata orang itu sambil menunjuk ke arah Kak Dika.“Jadi, Bapak ini adalah ayahku?” tanya Firman.“Ya, nak. Aku ini bapakmu!”kata orang itu.“Ayah, ayah!”kata Firman sambil memeluk ayahnya yang sudah lama tidak bertemu. Tiba-tiba Kak Dika terbangun, dia terkejut melihat ayah sedang berdiri di depan rumahnya sambil memeluk Firman. Dia tiba-tiba marah dan menghampiri Firman.“Firman, siapa dia?”tanya Kak Dika.“Dia ayah, kak. Kakak tidak ingat, ya. Dia ayah, kak.”kata Firman.“Ayah, ayah macam apa kau ini yang tega meninggalkan keluarganya!”bentak Kak Dika.“Dika, jaga mulut kamu ! Kamu seharusnya bersyukur karena ayah telah kembali.”kata Pak Imron.“Bersyukur, bersyukur dariman? Bukankah selama ini ayah tidak pernah memberi kabar kepada kami dan ibu harus membanting tulang untuk menafkahi keluarga.”kata Kak Dika
“Dika, cukup!” kata ibu tiba-tiba datang ke rumah.“Ibu?” kata Firman heran.
“Ibu, ini bapak, Bu.” Kata Pak Imron.“ya, saya sudah tahu, Pak. Kenapa Bapak pulang kesini?” tanya ibu.“Bapak sudah sembuh, Bu. Dan sekarang Bapak bias bekerja lagi.”kata Pak Imron.“Cukup,cukup, Pak. Sudah banyak penderitaan yang aku alami, Pak. Sudah banyak banyak garam yang aku makan saat Bapak pergi. Apakah Bapak pantas pulang kesini lagi ?” kata ibu sambil meneteskan air mata.“Maafkan Bapak, Bu. Maafkan Bapak, Bapak khilaf selama ini tidak member kabar apa-apa kepada ibu.”kata Pak Imron.“Sudah cukup, Pak. Lebih baik, Bapak menginjakkan kaki dari rumah ini!”bentak Kak Dika.“Baiklah, ayah akan meninggalkan rumah ini.”kata Pak Imron sambil berjalan keluar rumah membawa tas dengan cepat.“Ayah, ayah! Jangan pergi, yah!” teriak Firman.“Sudahlah Firman, biarkan ayah pergi.” kata Kak Dika.“Tidak,tidak, Kak. Ayah tidak boleh pergi, dia sudah lama bertemu dengan keluarganya.Kenapa dia harus pergi ?” kata Firman sambil menangis.“Berhentilah Firman,ini mungkin sudah takdir.” kata ibu sambil pergi menuju dapur. Kak Dika kemudian pergi ke kamarnya, meninggalkan Firman yang masuh berdiri di ruag tamu. Suasana rumah Firman menjadi hening kembali, hanya suara jangkrik yang menemani kesedihan Firman.
Malam itu, Firman tidak bisa tidur. Dia masih teringat dengan kejadian yang dialaminya. Saat melihat jam, ternyata waktu menunjukkan pukul 02.00. Firman segera mengambil air wudhu untuk mendirikan shalat malam. Setelah selesai shalat malam, dia berdoa agar keluarganya segera berbaikan kembali. Tiba-tiba Firman mengambil secarik kertas dan bolpoin. Dia menuliskan sebuah permohonan kepada Tuhan agar doa-doanya terkabulkan. Isi dari surat tersebut adalah curahan hatinya selama ini.
Keesokan harinya, dia mengajak Andik untuk naik ke puncak bukit. Andik heran, kenapa Firman naik ke puncak bukit dengan membawa sebuah botol.“Apa isinya ?”Tanya Andi sambil menunjuk botol itu.“Botol ini berisi sepucuk surat untuk ayahku.” kata Firman.“Ayah? Apakah ayahmu sudah pulang ?” tanya Andik.“Ya, ayahku sudah pulang. Tetapi karena konflik di dalam keluargaku, ayahku pergi meninggalkan kami.”kata Firman.“Lalu, untuk apa surat itu kau masukkan ke dalam botol ?” tanya Andik.“Aku ingin melemparkan botol ini sejauh mungkin agar aku bisa melupakan kenangan tentang ayahku.” kata Firman.“Kenapa kau berkata begitu, Man?” tanya Andik.“Keluargaku sudah tidak bisa bersatu lagi. Kakak dan ayah sudah tidak akur lagi.” kata Firman.Kemudian Firman melempar botol itu sekuat-kuatnya dan sejauh mungkin.“Apa kau sudah lega, Man ?” tanya Andik.“Entahlah, Dik. Rasanya masih ada yang mengganjal di hatiku.” kata Firman.“Sudahlah, Man. Lupakan saja semuanya. Ayo kita pulang, hari sudah sore lho.” ajak Andik.“Baiklah, ayo kita pulang.” jawab Firman.
Keesokan harinya, Pak Imron berencana akan pergi ke kota. Dia lalu berjalan menuju tempat pemberhentian bus. Dalam perjalanan, Pak Imron menemukan sebuah botol pecah yang berisi secarik kertas di jalan, Dia lalu mengambil dan melihat isi kertas tersebut. “Coba aku lihat isi kertas ini.”kata Pak Imron.Setelah membaca kertas tersebut, tiba-tiba Pak Imron meneteskan air mata. Hatinya terketuk ketika membaca kertas itu. Dia lalu berlari menuju ke desa ke rumah Firman. Sesampainya di rumah Firman, dia bertemu dengan Kak Dika. Kak Dika langsung bersujud di depan ayahnya.“Maafkan aku, ayah!” kata Kak Dika.“Ayah juga, Dik.Ayah yang salahs elama ini tidak pernah member kabar.” kata Pak Imron. Pak Imron Kemudian memeluk Kak Dika yang mau menerima ayahnya kembali. Melihat hal tersebut, hati Firman sangat bahagia bercampur haru. Sekarang, keluarganya bisa bersatu kembali dan sudah tidak ada lagi kesedihan yang meliputi Firman dan Keluarganya.
Tamat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar